Fungsi Seni
Fungsi Seni Secara Budaya
1. Posisi Seni dalam Lingkup Budaya
Istilah budaya telah umum diketahui secara keliru. Budaya, kebudayaan, seolah-olah hanya terkait dengan kesenian, seperti seni rupa, tari, musik, sastra, dan pertunjukan. Dalam bahasan antropologi, istilah kebudayaan bermakna “keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar”. Unsur kebudayaan yang pertama berupa ide, gagasan, norma, peraturan, dan nilai. Sifatnya abstrak, mujarad, karena berada dalam alam pikiran warga masyarakat. Honigmann menyebut unsur pertama sebagai kebudayaan ideal, sedangkan Koentjaraningrat menyebutnya sebagai adat. Kebudayaan ideal atau adat ini merupakan satu kesatuan yang utuh membentuk --apa yang disebut oleh para antropolog dan sosiolog- - “sistem kebudayaan (cultural system)”.
Unsur kedua adalah serangkaian kegiatan manusia dalam persitindakannya (interaksi) dengan manusia lain. Dari unsur kedua ini terbentuklah sistem sosial (social system). Bentuknya nyata, bisa dicerap, diamati, dan didokumentasi. Unsur ketiga memiliki wujud yang lebih nyata, kasat mata, yaitu semua hasil kegiatan manusia, berupa benda hasil karya manusia. Ini merupakan unsur kebudayaan yang paling nyata, biasa disebut sebagai kebudayaan fisik.
Seni rupa adalah bagian dari kebudayaan fisik ini, karena semua hasil kegiatan bidang seni rupa memiliki tampilan rupa yang kasat mata. Fungsi kesenian secara budaya, tidak jauh berbeda dengan fungsi cabang budaya lainnya. Tetapi, pada situasi tertentu dan pada lokasi tertentu, kesenian seolah-olah menjadi ujung tombak nilai budaya masyarakat: nilai suatu bangsa. Budaya tradisi yang terkait dengan kondisi lingkungan suatu tempat, kini, cenderung kurang mendapat perhatian. Sehingga, ketika seseorang mengolah budaya: kesenian, teknologi, pembangunan, misalnya, kerap hasil olahannya tidak sejalan dengan keberadaan masyarakat pendukungnya. Hasilnya bisa menggambarkan kekurangcocokan, ketercerabutan, dengan nilai yang telah dimiliki oleh masyarakat.
2. Penjajahan Gaya Baru
Masyarakat Jepang, sekalipun mereka telah mampu mengembangkan diri dengan aneka temuan teknologi tinggi, mereka tetap mengikatkan diri dengan aneka seni tradisi milik mereka. Budaya membaca yang mereka kondisikan dalam kehidupan sehari-hari, telah memberi andil besar dalam pengembangan jenis kesenian milik mereka. Kabuki, ikebana, dan kimono adalah sedikit di antara nama-nama jenis kegiatan dan hasil seni yang kemudian mempopulerkan nama Jepang. Dari budaya membaca, berkembanglah salah satu jenis kegiatan seni rupa yaitu komik.
Dunia animasi, dunia gambar bergerak, pun telah demikian maju. Menyikapi budaya animasi yang selama ini dianggap sebagai produk jenis kartun untuk konsumsi anak-anak semata, harus lebih hati-hati. Serbuan budaya luar yang telah diracuni berbagai niat dan upaya buruk dalam mempengaruhi generasi muda, begitu banyak ditemukan dalam produk kartun dan animasi. Sekali lagi, penjajahan budaya melalui jembatan dunia maya sangat sulit dibendung. Penguasaan tentangnya harus menjadi jalan pintas terbaik dalam membendung sisi buruk teknologi yang menyertainya.
3. Seni dan Martabat Bangsa
Para pencapai prestasi bidang seni, begitupun bidang sains dan sosial, prestasi mereka tidak pernah mendapat dukungan yang wajar dari masyarakat dan pemerintah. Keris, batik, wayang, gamelan, dan tari kecak misalnya, adalah bentuk-bentuk prestasi masyarakat yang tak pernah mendapat perhatian yang bijak. Boleh jadi prestasi tersebut telah menjadi ciri khas Indonesia, yang tidak dimiliki oleh bangsa lain. Pengenalan benda dan kegiatan tersebut begitu kental dengan kedatangan tamu asing ke Indonesia. Cinderamata antarnegara selalau melibatkan keris, batik, dan wayang. Gamelan Jawa, Sunda, dan Bali telah dipelajari di mancanegara.
Wayang kini telah diakui sebagai hasil budaya masyarakat dunia oleh UNESCO. Pengakuan tersebut menunjukkan bahwa keberadaan wayang sebagai bagian dari kehidupan seni masyarakat Indonesia, telah juga menjadi bagian tak terpisahakan dalam peta kesenian dunia. Para seniman Barat sudah mulai banyak yang mempelajari secara khusus kesenian wayang. Di antara para penyuka wayang itu, ada yang menjadi dalang, pesinden, maupun pemain musik pengiring pertunjukan wayang.
4. Wayang Golek Purwa
Oleh Drs. Jajang Suryana, M.Sn
Wayang bisa berarti cerita. Wayang adalah pertunjukan. Wayang juga adalah peraga (tokoh) dalam cerita. Wayang, seperti kata para ahli, adalah bayangan. Kalau istilah tersebut diartikan secara terbatas, sebagaimana wujud wayang kulit, pengertian tersebut menjadi tidak lengkap. Wayang bukan sekadar bayangan dalam kelir (layar). Wayang adalah bayangan tentang kehidupan manusia, gambaran kehidupan manusia. Beberapa batasan tentang pengertian wayang akan dikemukakan dalam bahasan berikut ini. Ismunandar (1988: 9) menyebutkan bahwa kata wayang berasal dari bahasa Jawa krama ngoko yang berarti perwajahan. Kemudian dijelaskan, perwajahan tersebut terdiri atas barang (juga yang lainnya) yang terkena cahaya (penerangan).
Masih banyak bentuk dan jenis wayang lainnya, seperti Wayang Beber (berupa gambar pada lembaran kulit maupun kertas gulung), Wayang Golek (boneka trimatra dari bahan kayu bulat torak), Wayang Wong (diperankan oleh manusia penari), dan Wayang Klithik (terbuat dari bahan kayu pipih yang dilengkapi bahan kulit tebal sebagai bagian lengan), dan Wayang Topeng, yang dinikmati pada jenis-jenis wayang tadi, bukan bayangannya.
Wayang kulit, terutama wayang kulit purwa, merupakan salah satu jenis wayang ciptaan masa lalu yang bisa bertahan hidup dan tetap memiliki masyarakat pendukung hingga masa kini. Wayang jenis ini bisa kita temukan di daerah-daerah Jawa (terutama), Sumatera (Palembang), Kalimantan (Banjar), Bali, dan Lombok. Wayang kulit purwa berlatar belakang cerita Ramayana dan Mahabharata. Di samping itu, ada juga jenis wayang kulit lain yang berlatar belakang cerita panji, babad, sejarah, semi sejarah, maupun kisah agama.
Jenis-jenis wayang ciptaan baru selalu muncul karena hasil kerja sama antara para juru wayang (pembuat wayang) dengan dalang atau pun dengan pelindung seni, seperti petugas pemerintahan. Hasil penelitian menunjukkan: ada juru wayang yang menggubah jenis wayang baru, ada juga dalang yang memberi inspirasi kepada juru wayang untuk mengembangkan bentuk wayang baru, atau juga pengayom seni yang meminta kepada juru wayang dan dalang untuk menghadirkan jenis wayang dan pertunjukan baru (Jajang, 1995: xxii-xxiii; 74-81).
Begitulah, berturut-turut perubahan berlangsung menyertai tuntutan kondisi zaman maupun tuntutan penyesuaian dengan jenis wayang. Pada awalnya, pertunjukan wayang adalah pertunjukan langsung (live-show) semalam suntuk. Tanggapan wayang dikaitkan dengan upacara (sejenis) ruwatan, kemudian melengkapi acara-acara hajatan, selamatan, bahkan perayaan politik.
WAYANG GOLEK
Lahirnya wayang golek adalah jawaban atas keinginan mempertunjukkan wayang pada siang hari (Jajang, 1995: 62). Istilah wayang golek, pada awalnya muncul dari sebutan terhadap boneka yang selalu dihadirkan pada setiap akhir pertunjukan wayang kulit purwa. Boneka ini dimainkan sebagai penutup acara yang maksudnya untuk mengajak penonton nggoleki, mencari makna isi pertunjukan yang telah ditampilkan oleh dalang (Amir, 1991: 79; Wibisono, 1974: 82). Dari kata nggoleki itulah muncul sebutan wayang golek. Wayang golek awal ini, sebetulnya hanyalah sebuah boneka kayu yang sama sekali bukan tokoh cerita. Ia hanya sebuah boneka berbentuk model wanita, tidak menunjuk kepada salah satu tokoh dalam cerita Ramayana maupun Mahabharata (Yudoseputro, 1994).
WAYANG GOLEK PURWA
Wayang golek purwa adalah sebutan untuk wayang golek yang berlatar belakang cerita Ramayana dan Mahabharata. Wayang golek inilah yang hingga kini masih bertahan hidup serta tetap mendapat dukungan masyarakat pencintanya. Wayang golek purwa dipentaskan dengan cerita babon Ramayana dan Mahabharata. Cerita-cerita pakem ditampilkan dengan menggunakan campuran bahasa Jawa dan Sunda. Bahasa Jawa digunakan dalam menyampaikan bubuka, bagian pendahuluan, maupun pada pengantar babak per babak. Selebihnya, para dalang menggunakan bahasa Sunda. Di samping cerita pakem, para dalang mengarang cerita sendiri, yang disebut cerita carangan. Cerita karangan dalang ini tidak lepas dari pokok cerita utama, yaitu cerita Ramayana atau Mahabharata. Wayang golek purwa bisa dipertunjukkan pada malam hari maupun pada siang hari. Menikmati pertunjukan jenis wayang ini bisa lebih alami karena sifat bonekanya yang trimatra. Gerak tokoh wayang bisa ternikmati secara utuh pada ruang panggung.
Wayang golek purwa adalah wayang trimatra. Jenis wayang ini bisa disebut secara tepat sebagai boneka untuk mempertunjukkan lakon. Karena bentuknya yang trimatra, wayang ini bisa dinikmati dari beberapa arah. Cara mempertunjukkannya tidak memerlukan kelir sebagaimana dalam pertunjukan wayang kulit. Oleh karena itu, gerak tokoh lakon ketika boneka ini dipertunjukkan oleh dalang, terlihat lebih nyata, karena boneka ini merupakan bentuk tiruan manusia (ikonografi).
Pada pertumbuhannya wayang golek mengalami perubahan-perubahan. Awalnya, gaya Cibiru dengan segala kekhasannya, menjadi contohan untuk para juru golek yang ada di luar Cibiru. Oleh karena itu, selanjutnya muncul penyempurnaan-penyempurnaan, terutama pada bagian rautnya. Raut wayang golek Cibiruan yang cenderung kurang membulat, dengan hiasan yang lebih mengarah kepada warna prada, brom, atau kuning emas, dipadu dengan warna hitam dan hijau, dianggap perlu mendapat perubahan.
Muncullah wayang golek Cibiruan yang baru, yang berciri raut lebih membulat, dengan warna hiasan cenderung biru, biru muda, hijau, hijau muda, ungu, merah, dan kuning. Di samping gaya Cibiru Lama dan Cibiru Baru, muncul juga gaya lain yang merupakan tiruan dan hasil pengembangan baru dari gaya Cibiru. Di antaranya yang terkenal seperti wayang golek gaya Bandung dan Giriharja. Golek gaya Bandung tidak terlalu jauh berbeda dengan gaya Cibiru Baru. Sedangkan gaya Giriharja, di samping mengacu kepada gaya Cibiru Lama, juga menggali kembali hiasan yang terdapat pada wayang-wayang kulit yang lebih ramai, penuh ornamen. Konsep gaya Giriharja ini telah pula ditampilkan sebelumnya oleh Sulaeman Partadireja, yang menggubah Wayang Golek Elung Bandung.
Gaya pementasan Ade sangat menyentak para pemerhati wayang golek. Pertunjukan wayang golek kembali disukai para pendukungnya. Wayang golek merebak ke dunia rekaman. Pertunjukan di radio, kantor pemerintahan, kampus, sekolah, dan hotel, menjadi hal yang biasa. Bahkan, pertunjukan wayang golek di televisi, kemudian, menjadi hal yang sangat biasa. Penonton, terutama penonton muda yang pada awalnya emoh dengan pertunjukan wayang, menjadi masyarakat penonton baru yang mendukung keberadaan wayang golek.
Bentuk hasil garapan yang lain, juga karena untuk memenuhi keperluan hiasan, adalah Golek “Klasik”. Golek ini berraut seperti golek pertunjukan, tetapi penyelesaian akhir bagian-bagian hiasan dan warna tidak mengikuti pola hias dan warna golek pertunjukan. Boneka golek sama sekali tidak dicat warna-warni, melainkan ditonjolkan warna asli kayu yang dikilatkan. Biasanya, golek hiasan, sesuai dengan fungsinya, dibuat berbeda dengan golek untuk pertunjukan. Perbedaan itu, terutama, tampak pada segi keterpakaian boneka tersebut. Boneka golek pertunjukan untuk dimainkan, digerakkan, dihidupkan sesuai dengan tuntutan cerita. Sedangkan boneka golek hiasan, segi keterpakaiannya cenderung tidak diperhatikan oleh pembuatnya. Oleh karena itu, mutu wayang golek pertunjukan lebih baik daripada golek hiasan.
WANDA
Wanda adalah istilah perwajahan atau raut khusus pada wayang. Tokoh-tokoh dalam cerita wayang yang memiliki wanda adalah tokoh yang populer atau disukai penonton, dan mempunyai banyak kisah sehingga sering ditampilkan. Sedangkan tokoh yang jarang ditampilkan, sehingga kurang dikenal, tidak memiliki raut khusus (Sagio dan Samsugi, 1991: 18; Widodo, 1990: 123). Peristilahan yang sangat erat kaitannya dengan wanda, yaitu raut. Istilah raut (potongan, tampang, bentuk, rupa, bangun) digunakan di sini untuk menunjuk keadaan tubuh dan ciri-ciri tokoh cerita wayang, khususnya wayang golek.
Ada tiga istilah raut yang memiliki pengertian berbeda: raut peranan, raut tampang, dan raut wanda atau raut khusus (Jajang, 1995: 10-27). Kata raut digunakan untuk menunjuk segi rupa golek. Sebuah boneka golek secara umum memiliki dua sisi sebutan pada rautnya, yaitu raut peranan dan raut tampang. Raut peranan menggambarkan peranan tokoh golek: peranan sebagai satria, ponggawa, buta, dan panakawan. Raut tampang menggambarkan watak masing-masing tokoh. Seperti watak santun, pemarah, cergas, licik, patuh, pengabdi, pelucu, dan banyak lagi. Raut wanda atau raut khusus hanya dimiliki oleh tokoh-tokoh cerita wayang yang populer, sering ditampilkan dalam aneka cerita, dan memiliki pernanan penting dalam sebuah cerita. Raut wanda ini menunjukkan ciri khusus suasana hati, keadaan jasmani, atau keadaan lingkungan tokoh.
Pada wayang golek akan kita temukan persamaan unsur raut hanya pada bagian kepalanya. Seperti hasil penemuan pada penelitian raut wayang golek purwa di kawasan Bandung (Jajang, 1995), pengakuan para juru golek menunjukkan bahwa pakem pada pembuatan boneka golek tidak begitu ketat. Pakem raut peranan dan raut tampang tetap mereka pertahankan, tetapi pakem hiasan merupakan hal agak diabaikan. Secara menyeluruh dalam bentuk wayang kulit hal itu bisa diterapkan secara ketat. Tetapi, seperti pengakuan para pegolek (pembuat wayang golek), hal itu terlalu sulit jika diterapkan dalam wayang golek.
Dari hasil penelitian yang sama, ditemukan persetujuan para juru golek dalam menyebut nama jenis raut wanda. Nama jenis raut wanda pada tokoh wayang golek antara lain sebagai berikut: gehger, seba atau maruba, dan pamuk (tokoh Arimba); rentang, gondrong, dan madu (tokoh Arjuna); petor, merebu, dan pinandita (tokoh Baladewa); ngure, pamuk, dan seba (tokoh Bima); kunyuk dan gendeng (tokoh panakawan Cepot); jiklak, bandring, dan kalap (tokoh Dursasana); macan, seba, panganten, dan pijer (tokoh Gatot Kaca); kembang, maguron, dan merebu (tokoh Kresna); lober, marseba, dan gereng (tokoh Duryudana); dan mega, seba, dan kuncup (tokoh Semar) [Jajang, 1995: 103-106].
NILAI ESTETIS LIHATAN
Nilai estetis wayang tidak bisa didekati hanya sekadar menggunakan patokan estetika Barat. Estetika Barat cenderung hanya membicarakan masalah unsur karya seni yang kasat mata. Unsur estetis seperti garis, bidang, warna, ruang, barik, blabar, dan keseimbangan yang ada dalam boneka golek, misalnya, bisa dianalisis berdasarkan konsep estetika Barat. Tetapi, pada kenyataannya, semua jenis kesenian Timur, lebih khusus yang tradisional, erat juga kaitannya dengan keindahan yang tidak kasat mata. Perbandingan keseimbangan bagian tubuh seperti ukuran besar kepala, panjang lengan, dan tinggi serta besar tubuh, menunjukkan konsep proporsi yang lain.
Dalam pakem raut wayang, proporsi tersebut bertalian dengan gambaran kelompok peranan (raut peranan) dan watak (raut tampang) masing-masing tokoh wayang. Tokoh-tokoh dari kelompok peranan satria memiliki ukuran tubuh yang khas, berbeda dengan tokoh kelompok peranan ponggawa, apalagi buta. Ketika raut peranan tersebut kita teliti lagi, ada ciri khas lain yang menggambarkan raut tampang lengkap dengan watak tokoh. Sebagai contoh: watak santun digambarkan dengan sikap kepala yang menunduk; ladak (cergas) dengan sikap kepala tegak (dangah) dan tengadah (tanggah); dan berangasan, mudah marah, dengan sikap kepala tengadah. Tokoh panakawan Cepot, misalnya, pun memiliki warna wajah yang khusus: warna merah wajahnya sama sekali tidak menggambarkan watak pemberang, watak yang diwakili oleh warna merah pada umumnya.
RAUT PERANAN SATRIA
Raut peranan satria terdiri atas satria, satria-dewa, satria-raja, satria-pandita, dan satriaponggawa. Ada juga raut peranan seperti satria-dewa-ponggawa. raut peranan tokoh golek satria terdiri atas tiga kelompok: satria lungguh, satria ladak tumungkul, dan satria ladak dangah. Ciri tersebut adalah mata sipit, gabahan, kedelen, atau biasa juga disebut mata jaitan; alis tulis, mecut, ngajeler paeh: alis yang diterapkan juga pada raut peranan tokoh putri (kini menjadi trend tiruan model alis para wanita Indonesia terkenal, seperti para artis). Di samping ciri mata dan alis, pola mulut (alit galing, mungil), kumis (tulis, tipis), dan hidung (mancrit, mancrit bangir) pun sangat khas. Warna wajah lebih cenderung berdasarkan ciri raut tampang, yaitu sesuai dengan watak masing-masing tokoh. Warna putih, gambaran keluguan, kesantunan, banyak diterapkan kepada raut peranan satria lungguh. Warna gading dan merah muda, banyak juga ditemukan pada wajah tokoh satria ladak tumungkul dan ladak dangah. Memang, warna wajah pada dasarnya lebih mengarah kepada ciri raut yang menunjukkan watak tokoh, bukan ciri golongan.
RAUT PERANAN PONGGAWA
Ponggawa adalah angkatan bersenjata, penjaga keamanan. Raut peranan ponggawa, sejalan dengan tugasnya sebagai “pengawas”, memiliki ciri khusus ponggawa. Pola mata, alis, hidung, kumis, rerengon (garis dahi), dan hiasan kepala bagian depan, merupakan penanda raut peranan tersebut yang paling tampak. Sikap kepala dan warna wajah, seperti pada raut peranan satria, menunjukkan watak tokoh ponggawa.
Pada kelompok wayang golek yang berraut peranan ponggawa, seperti satria, terdiri atas beberapa gabungan raut. Di antaranya, ponggawa, ponggawa-dewa, ponggawa-raja, ponggawa-pandita, dan ponggawa-buta. Ada juga yang memiliki tiga ciri gabungan, misalnya ponggawa-buta-raja, seperti tokoh Boma.
RAUT PERANAN BUTA
Buta atau raksasa, dalam cerita wayang, terdiri atas buta biasa dan buta garang. Buta biasa adalah jenis buta yang ukuran tubuhnya hampir sama dengan tokoh ponggawa badag, misalnya Bima dan Duryudana. Ciri keraksasaannya bisa dilihat pada pola gigi yang menonjol, bertaring. Banyak tokoh ponggawa yang bisa dikategorikan ke dalam kelompok ini. Tetapi, karena ciri keponggawaannya lebih menonjol, tokoh seperti itu lebih tepat bila disebut ponggawa-buta. Dalam artian, ciri buta tampak pada bagian giginya saja.
Pada perkembangan masa kini, ketika pertunjukkan golek lebih banyak menampilkan unsur lelucon, buta tidak lagi menyiratkan tokoh seram. Buta ciptaan baru, kini, telah menjadi bahan mainan, olok-olok, bahkan menjadi bulan-bulanan lawan. Biasanya tokoh-tokoh buta ciptaan baru itu dipertemukan dengan para panakawan. Seloroh dan kritikan muncul dari dialog para buta dan panakawan ini. Inilah bagian cerita yang menjadi daya tarik khusus pertunjukan wayang golek masa kini. Tetapi, pada perkembangan selanjutnya, atas hasil rembukan para pemerhati wayang golek, boneka karet dianggap terlalu jauh menyimpang dari keberadaan boneka golek. Para seniman Sunda perlu bersepakat bahwa boneka tersebut tidak pantas lagi dipakai dalam pertunjukan golek. Oleh karena itu, kini, hanya ada bentuk-bentuk buta yang terbuat dari bahan kayu saja yang dipakai dalam pertunjukan golek.
RAUT TAMPANG PANAKAWAN PANDAWA
Seperti disebutkan di atas, sebuah pertunjukan wayang golek selalu dibumbui tampilan para pelucu, yaitu panakawan. Melalui panakawan, dalang bisa mengolah cerita yang lucu bahkan yang menyentil penonton. Panakawan Pandawa memiliki raut yang khusus. Raut mereka --terdiri atas Semar, Cepot, Dawala, dan Gareng-- tidak bisa disatukelompokkan karena masing-masing tidak memiliki ciri raut kelompok seperti satria, ponggawa, atau pun buta.
ANTARA CIBIRU, CIBIRU LAMA, DAN CIBIRU BARU
Secara cermat bisa kita teliti pola warna hiasan bagian kepala boneka golek, yang merupakan bagian raut golek yang terikat pakem. Golek gaya Cibiru Kuno, warna-warna hiasan kepalanya cenderung kuning polos dan hitam. Warna putih dan merah kadangkadang digunakan untuk memberi ketegasan bagian hiasan. Pola warna turunan (gradasi) sudah tampak walaupun hanya terdiri atas tiga tingkatan (misalnya: hitam, kelabu, putih). Pola sablonan belum digarap. Bagian rambut digarap dalam pola global. Bahan cat masih menggunakan cat kayu yang cenderung kusam.
Boneka golek gaya Cibiru Lama sudah mulai berubah warnanya. Warna kuning, di sini lebih mengutamakan warna “brom” (kuning emas), yang dominan pada golek Cibiru Kuno, masih dipertahankan. Warna-warna cerah seperti merah, kuning, hijau, dan ungu mulai ditambahkan. Warna turunan telah menjadi empat tingkatan, ditambah goresan-goresan halus di atasnya. Hiasan jamang susun (bentuk segitiga pada dahi) mulai diisi warna selain warna brom. Pola ukel pada bagian rambut masih patuh mengikuti gaya kuno. Bahan cat sudah mulai berubah menggunakan cat duko.
Pada boneka golek Cibiru Baru, warna kuning diganti dengan bahan cat duko yang lebih cerah. Warna brom hanya diterapkan pada bagian-bagian kecil hiasan. Warna turunan sedikit berubah. Pada gaya Cibiru Lama warna turunan ini cenderung ke warna hijau dan ungu. Sedangkan pada gaya Cibiru Baru ccenderung ke warna biru. Hiasan jamang susun telah diisi penuh oleh warna hiasan pola sablonan, yang terdiri atas warna kuning cerah, merah, putih, dan hijau. Secara lihatan, golek Cibiru Baru berwarna lebih cerah dibanding warna golek Cibiru Lama maupun Cibiru Kuno.
NILAI ESTETIS NON-LIHATAN
Keindahan raut yang tidak kasat mata (niskala, non-lihatan, non-visual) hanya bisa dirasakan oleh penikmat yang memiliki latar pengetahuan dan akar budaya tentang cerita wayang. Para penikmat yang lebih mengutamakan kenikmatan lihatan (visual) hanya bisa menangkap unsur-unsur lihatan seperti garis, bidang, barik, warna, isi, dan blabar.
Keindahan yang niskala itu terutama bisa dirasakan, misalnya, dalam kesesuaian watak dengan gambaran simbolis yang muncul pada sikap kepala, warna wajah, tebal garis alis, bentuk hidung, tinggi tubuh, bentuk mata, ukuran mulut, kumis, gigi, dan garis-garis penguat (seperti rerengon). Ketekunan para juru wayang dalam meramu lambang untuk menangkap watak tokoh sulit dicari tandingannya. Mereka secara teliti memilah ciri raut tampang masing-masing tokoh dalam aneka penanda yang berbeda-beda. Apa yang tertulis, tersebut, tercatat dalam cerita, tentang watak satu tokoh, ditafsirkan ke dalam tampilan raut muka tokoh tersebut. Belum ada boneka yang memiliki gambaran watak yang ditokohkannya selengkap yang ada pada raut wayang.

Komentar
Posting Komentar